“Sudahlah Nak,
jangan terlalu bersedih. Doakan saja biar Ibumu damai disisi Allah.”
Kurasakan kedua
tangan yang lembut meraih tubuhku dan mengusap air mata yang mengalir dipipiku.
Aku hanya bisa pasrah menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya. Kurasakan betul
getaran yang hebat bergetar didadanya. Ayah, setegar apapun dirimu menghadapi
ini semua, menutupi kesedihan di depan kami, tetapi engkau tetaplah seorang
laki-laki yang mempunyai rasa sakit, yang tidak bisa memungkiri bahwa
kehilangan seseorang yang begitu
engkau sayangi memberikan sayatan pedih di relung hatimu.
engkau sayangi memberikan sayatan pedih di relung hatimu.
***
Yasiin.. Walquranil
khakim...
Ayat yang
selalu beriringan dengan datangnya malaikat pencabut nyawa itu terdengar sakral
keluar dari setiap mulut orang-orang yang memenuhi ruang tamu rumahku. Keberadaan
sekujur tubuh yang kaku berada di tengah-tengah kerumunan wanita-wanita berhijab
serba hitam. Tak pernah kusangka semuanya datang begitu cepat. Kebahagiaan yang
baru sempat kami rasakan kembali hilang ditelan kenyataan yang begitu
menyakitkan.
Aku terpaku
memandang wajah yang tak asing lagi bagiku
‘Ibu’, sosok raga yang sudah tak bernyawa berbujur kaku dibalut kain
putih takbermotif. Kain yang sangat kubenci. Tak kuhiraukan semua mata yang
sedari tadi memandangi diriku, akupun menangis sejadi-jadinya dan berlari
memeluk Ibuku. Mungkin ini adalah pelukan terakhir yang bisa kuberikan untuk
Ibu tersayang.
Aku sudah mulai
bisa menerima kenyataaan, seteah tujuh hari pemakaman Ibuku. Ibu telah tiada
itu kenyataan yang harus aku terima. Sekarang Ayah telah sendirian membesarkan
kami, tidak ada lagi tumpuan yang mau menanggung kebutuhan hidup sehari-hari
kami. Itu juga yang memaksa aku harus bisa tegar. Walaupun sempat aku putus asa
dengan datangnya semua ini. Aku yang baru saja lulus SMP harus bisa
mengurungkan niatku untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi demi
tercapainya cita-citaku yang sedari dulu ingin menjadi Guru Agama. Bagiku Guru bukan
sekedar profesi akan tetapi ada sisi lain yang sangat mulia. Semua sudah
terkubur dalam-dalam bersama dengan terkuburnya jasad Ibuku dipemakaman.
Aku tak ingin
menambah beban Ayahku yang berprofesi sebagai pedagang menanggung beban seberat
ini sendirian, menyekolahkan aku dan satu adik perempuanku.
Tapi Ayah tidak
setuju, dengan keputusanku untuk tidak melanjutkan sekolah.
“Apa kau lupa
apa yang disampaikan Ibumu?”
“Kejarlah
cita-citamu setinggi mungkin, Allah pasti akan memberikan jalan kepada orang-orang
yang ingin menuntut ilmu. Jangan kau anggap kepergian ibumu adalah akhir dari
segalanya, justru seharusnya ini menjadi langkah awal kamu untuk memulai
kehidupan yang sesungguhnya, kau harus belajar mandiri, belajar sabar, belajar
mensyukuri dan menerima pahit manisnya hidup.”
Kusadari kedua
air mataku pun mengalir.
“Tapi Ayah....”
“Sudahlah nak,
jangan kau berfikir yang tidak-tidak, Ayah yakin Allah akan memberikan jalan
yang terbaik, Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kita”.
***
Rintikan air
hujan yang tiada hentinya membasahi bumi sejak sore tadi, menambah dinginnya
sepertiga malam. Kubuka kelopak mataku yang masih agak berat, kulangkahkan
kakiku menuju kamar yang berada di depan kamarku. Perlahan kubuka. Kutemukan sosok
pria yang masih terlelap tidur. Ayahku. Kupandang wajahya yang terlihat begitu
lelah. Tentu saja, beban yang ia tanggung begitu besar. Menjadi seorang Ayah
sekaligus Ibu bagi anak-anaknya. Tanggung jawab yang tidak ringan. Tak terasa
airmata mengalir di pipiku. Ingin rasanya diri ini berteriak keras
memberitahukan kepada seluruh dunia dialah laki-laki terhebat yang pantang
menyerah. Laki-laki yang selalu tersenyum menerima cobaan, walaupun hatinya
tersayat perih.
Kulihat jam
dinding baru menunjukkan angka 2.30. kusapu sisa air mataku yang takingin
kutampakkan di depan Ayah. Aku malu. Ingin aku membangunkan beliau tetapi jika
kuingat baru saja beliau terlelap dalam tidurnya, kuurungkan niatku.
Aku melangkah
untuk mengambil air wudhu. Disepertiga malam ini ingin rasanya kukeluhkan semua
beban yang aku pendam, setiap sujud aku berharap pertolongan dan kuasanya. Butiran
tasbih bergulir memuji kebesarannya. Aku tak pernah mengeluh apalagi
menyalahkan takdir yang telah terjadi. Semua sudah tertulis, aku hanya bisa
tterima dan ikhlas.
***
Bersambung...
-Coretan AliBTG -

