twitter




“Sudahlah Nak, jangan terlalu bersedih. Doakan saja biar Ibumu damai disisi Allah.”

Kurasakan kedua tangan yang lembut meraih tubuhku dan mengusap air mata yang mengalir dipipiku. Aku hanya bisa pasrah menjatuhkan tubuhku dalam pelukannya. Kurasakan betul getaran yang hebat bergetar didadanya. Ayah, setegar apapun dirimu menghadapi ini semua, menutupi kesedihan di depan kami, tetapi engkau tetaplah seorang laki-laki yang mempunyai rasa sakit, yang tidak bisa memungkiri bahwa kehilangan seseorang yang begitu
engkau sayangi memberikan sayatan pedih di relung hatimu.


***

Yasiin.. Walquranil khakim...
Ayat yang selalu beriringan dengan datangnya malaikat pencabut nyawa itu terdengar sakral keluar dari setiap mulut orang-orang yang memenuhi ruang tamu rumahku. Keberadaan sekujur tubuh yang kaku berada di tengah-tengah kerumunan wanita-wanita berhijab serba hitam. Tak pernah kusangka semuanya datang begitu cepat. Kebahagiaan yang baru sempat kami rasakan kembali hilang ditelan kenyataan yang begitu menyakitkan.

Aku terpaku memandang wajah yang tak asing lagi bagiku  ‘Ibu’, sosok raga yang sudah tak bernyawa berbujur kaku dibalut kain putih takbermotif. Kain yang sangat kubenci. Tak kuhiraukan semua mata yang sedari tadi memandangi diriku, akupun menangis sejadi-jadinya dan berlari memeluk Ibuku. Mungkin ini adalah pelukan terakhir yang bisa kuberikan untuk Ibu tersayang.

Aku sudah mulai bisa menerima kenyataaan, seteah tujuh hari pemakaman Ibuku. Ibu telah tiada itu kenyataan yang harus aku terima. Sekarang Ayah telah sendirian membesarkan kami, tidak ada lagi tumpuan yang mau menanggung kebutuhan hidup sehari-hari kami. Itu juga yang memaksa aku harus bisa tegar. Walaupun sempat aku putus asa dengan datangnya semua ini. Aku yang baru saja lulus SMP harus bisa mengurungkan niatku untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi demi tercapainya cita-citaku yang sedari dulu ingin menjadi Guru Agama. Bagiku Guru bukan sekedar profesi akan tetapi ada sisi lain yang sangat mulia. Semua sudah terkubur dalam-dalam bersama dengan terkuburnya jasad Ibuku dipemakaman.

Aku tak ingin menambah beban Ayahku yang berprofesi sebagai pedagang menanggung beban seberat ini sendirian, menyekolahkan aku dan satu adik perempuanku.

Tapi Ayah tidak setuju, dengan keputusanku untuk tidak melanjutkan sekolah.

“Apa kau lupa apa yang disampaikan Ibumu?”

“Kejarlah cita-citamu setinggi mungkin, Allah pasti akan memberikan jalan kepada orang-orang yang ingin menuntut ilmu. Jangan kau anggap kepergian ibumu adalah akhir dari segalanya, justru seharusnya ini menjadi langkah awal kamu untuk memulai kehidupan yang sesungguhnya, kau harus belajar mandiri, belajar sabar, belajar mensyukuri dan menerima pahit manisnya hidup.”

Kusadari kedua air mataku pun mengalir.

“Tapi Ayah....”

“Sudahlah nak, jangan kau berfikir yang tidak-tidak, Ayah yakin Allah akan memberikan jalan yang terbaik, Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan kita”. 

***
Rintikan air hujan yang tiada hentinya membasahi bumi sejak sore tadi, menambah dinginnya sepertiga malam. Kubuka kelopak mataku yang masih agak berat, kulangkahkan kakiku menuju kamar yang berada di depan kamarku. Perlahan kubuka. Kutemukan sosok pria yang masih terlelap tidur. Ayahku. Kupandang wajahya yang terlihat begitu lelah. Tentu saja, beban yang ia tanggung begitu besar. Menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu bagi anak-anaknya. Tanggung jawab yang tidak ringan. Tak terasa airmata mengalir di pipiku. Ingin rasanya diri ini berteriak keras memberitahukan kepada seluruh dunia dialah laki-laki terhebat yang pantang menyerah. Laki-laki yang selalu tersenyum menerima cobaan, walaupun hatinya tersayat perih.

Kulihat jam dinding baru menunjukkan angka 2.30. kusapu sisa air mataku yang takingin kutampakkan di depan Ayah. Aku malu. Ingin aku membangunkan beliau tetapi jika kuingat baru saja beliau terlelap dalam tidurnya, kuurungkan niatku.

Aku melangkah untuk mengambil air wudhu. Disepertiga malam ini ingin rasanya kukeluhkan semua beban yang aku pendam, setiap sujud aku berharap pertolongan dan kuasanya. Butiran tasbih bergulir memuji kebesarannya. Aku tak pernah mengeluh apalagi menyalahkan takdir yang telah terjadi. Semua sudah tertulis, aku hanya bisa tterima dan ikhlas. 

***

Bersambung...

"Potret 5th yang lalu"
-Coretan AliBTG -

0 komentar: