Banyak sekali organisasi kemasyarakatan dan organisasi mahasiswa yang berdiri dengan tujuan
utama untuk mengabdi. Mulai dari ormas-ormas nasional, keagamaan, partai
politik, LSM, organisasi mahasiswa dan sebagainya. Mereka semua didirikan
dengan tujuan mulia. Namun berapa lama kah tujuan itu bisa bertahan? Semakin
besar organisasi tersebut semakin banyak pula kegiatannya. Segala kesibukan,
ini terkadang membuat individu yang berada di dalamnya lupa akan esensi
sebenarnya dari organisasi tersebut.
Seperti penyakit yang hampir terjadi di segala aspek sosial,
kesibukan mengejar hasil terkadang membuat kita melakukan sumber. Dampaknya
adalah berubahnya fungsi organisasi-organisasi pengabdian ini menjadi hanya semacam
pengelola suatu kegiatan (Pengorganisir Acara). Ketika
kegiatan mereka diukur hanya dengan gengsi dan persaingan, ketika keberhasilan
hanya diukur dari jumlah peserta dan keuntungan maka sebenarnya organisasi
tersebut sudah tamat. Karena saya yakin bahwa sebuah organisasi semacam ini
harusnya memiliki pemahaman yang adalam atas semua tindakannya, bukan hanya
sekedar menjalankan program tanpa makna. Ibarat orang gila yang fisiknya masih
ada namun jiwanya telah menghilang.
Maka itulah pentingnya pendidikan terhadap anggotanya. Bukan hanya
pendidikan tentang perilaku dan hasil, tetapi perlu juga pendidikan ideologi
dan landasan organisasi. Itu semua bertujuan agar organisasi bukan hanya ada
secara fisik, tetapi juga hadir ruhnya. Para anggota jangan hanya dilihat
sebagai sebuah pekerja untuk mencapai tujuan, tetapi sebagai orang yang akan
bekerja bersama kita untuk mewujudkan cita-cita bersama. Sehingga organisasi
tersebut akan benar-benar paham atas segala sesuatu yang terjadi dan menjadi
benar-benar bermakna seutuhnya.
Sabtu, 29 November 204

