twitter



By: Jonru Ginting

Empat hari belakangan ini, saya berhadapan dengan empat hal yang berkaitan dengan ucapan “Saya sibuk”.


Yang Ketiga:Tulisan Lalu Abdul Fatah berjudul “Jamal Terselip di Tulisan Ini. Mohon Selamatkan Dia!”, yang merupakan RESPONS terhadap tulisan Agung Mbot di atas.

Yang keempat:Barus saja ada teman yang menyapa saya lewat Yahoo! Messenger. Dia berkata, “Saya ingin jadi penulis sukses, tapi kesibukan di kantor menghambat saya.”

Saya tersenyum geli, lalu dengan spontan saya jawab, “Yang menghambat itu bukan pekerjaan anda, tapi pola pikir anda sendiri. Sekarang saya ingin tanya, apakah bagi anda menjadi penulis sukses itu penting atau tidak?”

“Sangat penting,” sahutnya

Kalau anda menganggap itu sangat penting, lantas kenapa anda tidak mau meluangkan sedikit saja waktu anda SETIAP HARI untuk menulis?”

Ya, kita selalu berkata bahwa ini penting, itu sangat penting, dan seterusnya. Tapi sayangnya, itu baru sebatas gombal belaka.

Kita tidak merealisasikannya menjadi TINDAKAN NYATA.

* * *

Baiklah, di bawah ini saya kutipkan sedikit dari tulisan pada buku terbaru saya yang saat ini sedang dalam proses penulisan.

Pertanyaan #01: Apakah Anda serius ingin menjadi penulis sukses?

Kalau jawaban Anda TIDAK, maka saya justru heran. Anda tidak serius untuk menjadi penulis sukses, tapi Anda dengan sangat serius membaca buku ini. Hei, mungkin ada yang salah di pikiran Anda. Coba cek dulu ke dokter 

Sementara bila jawaban Anda YA, maka pertanyaan selanjutnya:

Pertanyaan #02: Tadi Anda berkata “Jadwal saya padat”. Ini artinya Anda punya banyak aktivitas, bukan? Kita sebut saja, salah satu aktivitas Anda tersebut bernama “Kegiatan A”.

The question is: “Mana yang lebih penting bagi ANDA, “Kegiatan A atau menulis?”

Kalau Anda bingung harus menjawab apa (dengan kata lain Anda ragu), maka wajar bila Anda selama ini belum mulai menulis juga. Anda tak ubahnya seperti seorang pemuda yang menyetop taksi di jalan raya. Lalu ketika si sopir taksi bertanya “Mau ke mana”, anda menjawab, “Hm, ke mana ya?”

Kalau Anda menganggap “Kegiatan A lebih penting,” maka wajar bila Anda rela mengorbankan kegiatan menulis demi Kegiatan A. Saran saya, berhentilah membaca buku ini. Anda tidak membutuhkannya. Selama ini Anda sebenarnya hanya SEOLAH-OLAH ingin menjadi penulis sukses, padahal sebenarnya tidak!

Kalau Anda menjawab “Keduanya sama-sama penting”, maka selama ini Anda telah bersikap tidak adil. Anda seperti seorang ayah yang punya dua anak, tapi Anda lebih menyayangi anak yang satu dibanding anak yang lain.

Anda mengatakan “Kegiatan A dan menulis sama-sama penting.” Tapi Anda meluangkan banyak waktu untuk kegiatan A, sementara untuk kegiatan menulis Anda selalu beralasan “Tidak ada waktu.”

Halo? Anda sudah paham prinsip keadilan, bukan?

Kalau Anda menjawab “Kegiatan menulis lebih penting daripada kegiatan A”, maka Anda bukan hanya tidak adil, tapi juga aneh bin ajaib. Anda seperti seorang ayah yang lebih menyayangi anak tetangga daripada anak kandung Anda sendiri!

* * *

Oke, sekarang kita asumsikan bahwa jawaban Anda untuk pertanyaan kedua di atas adalah “sama-sama penting” atau “menulis lebih penting”. Artinya, Anda memang menganggap bahwa kegiatan menulis itu penting bagi diri Anda.

Pertanyaan #03:Kalau Anda menganggap bahwa menulis itu penting, lantas kenapa Anda selama ini selalu menggunakan alasan “sibuk” untuk menghindarinya? Sementara untuk kegiatan lain yang Anda anggap sama atau agak sama pentingnya, Anda selalu MENYEDIAKAN waktu khusus?

Hm, saya yakin Anda mulai mikir-mikir 

Inti dari masalah ini sebenarnya HANYALAH tentang kemauan dan komitmen Anda untuk MENYEDIAKAN WAKTU. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.

Jadi saudara-saudara sekalian,Masalah yang sebenarnya di sini bukan soal sibuk atau tidak, bukan soal ada waktu atau tidak ada waktu.

Yang perlu Anda lakukan adalah mengubah POLA PIKIR, seperti di bawah ini.

(1) Kalau Anda menganggap bahwa menjadi penulis sukses itu penting, maka Anda juga harus menganggap bahwa kegiatan menulis itu penting.

(2) Kalau Anda menganggap bahwa kegiatan menulis itu penting, maka Anda harus punya komitmen untuk menyediakan waktu khusus bagi kegiatan menulis.

(3) Kalau Anda masih berkata, “Saya sibuk, tak ada waktu,” maka saya akan bertanya lagi, “Anda masih ingin menjadi penulis sukses atau tidak?”

Jika Anda menjawab, “Ya, saya masih ingin menjadi penulis sukses,” maka tak ada jalan lain: Ayo sediakan waktu khusus untuk menulis. Jangan pakai alasan apapun lagi. Oke?

* * *

Bicara soal kesibukan, sebenarnya Anda tidak sendirian. Hampir semua orang pasti sibuk. Tantowi Yahya sangat sibuk. Agnes Monica juga sibuk. Stephen King sama saja. Bill Gates apalagi.

Tapi kenapa mereka bisa menjadi orang sukses? Kenapa mereka bisa menangani demikian banyak pekerjaan dan masalah? Padahal waktu yang tersedia untuk Bill Gates dan Anda sama-sama 24 jam sehari. Tak ada bedanya!

Orang-orang yang jadwalnya padat adalah orang-orang yang punya waktu luang sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada. Karena itulah mereka sangat menghargai waktu. Mereka tak ingin melewatkan sedetik pun untuk hal-hal yang tidak produktif. Mereka tidak suka menunda-nunda. Sebab bila menunda, mereka akan kehilangan kesempatan. Dii depan sudah banyak menunggu aktivitas-aktivitas lain.

Jadi bila Anda termasuk orang yang sangat sibuk, jadwal sangat padat, maka yang perlu Anda lakukan adalah:

1. Menghargai waktu, tidak suka menunda-nunda

2. Disiplin dalam mengelola waktu

3. Sediakan waktu khusus untuk menulis. Demi Tuhan, sediakan waktu khusus untuk menulis!

Salah satu rahasia orang sukses adalah kemampuan mereka dalam mengelola waktu. Bagaimana caranya agar dengan waktu yang tersedia, mereka bisa melaksanakan semua tugas secara efektif dan efisien.

“Orang sukses bukanlah orang yang punya banyak waktu luang. Orang sukses adalah orang yang pintar dan disiplin dalam mengelola waktu”.

* * *

“Oke, sekarang saya SUDAH SADAR bahwa saya harus menyediakan waktu khusus untuk menulis. Pertanyaan selanjutnya, Bagaimana caranya?

Ya, ini sebenarnya hal yang sangat teknis. Karena itu, saya akan berikan jawaban teknis pula.

Dulu, ketika masih menjadi pekerja kantoran, saya juga sangat sibuk. Saya harus berangkat ke kantor sekitar jam 6.30 pagi, lalu malamnya tiba di rumah sekitar jam 19.00 atau 20.30 dalam keadaan lelah dan mengantuk berat.

Anda mungkin berpikir bahwa saya tidak punya waktu untuk menulis.

Tapi silahkan kecewa karena Anda keliru! Justru pada kondisi seperti itulah saya berhasil menyelesaikan penulisan novel “Cinta Tak Terlerai”.

Saya selalu berusaha untuk mandi, sarapan dan berpakaian lebih pagi, sehingga tepat pukul 06.00 saya sudah siap untuk berangkat. Berdasarkan pengalaman, saya biasanya masih bisa sampai di kantor secara tepat waktu bila saya berangkat dari rumah pukul 06.30. Itu artinya saya punya waktu luang selama setengah jam.

Maka waktu setengah jam inilah saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menulis. Setelah jam 06.30 tiba, saya segera berhenti menulis. Walau sedang asyik-asyiknya, walau ide sedang lancar-lancarnya, walau nulisnya lagi nanggung, saya tidak peduli. Saya harus segera berhenti menulis atau saya akan terlambat tiba di kantor dan ditegur oleh atasan.

Sekarang coba Anda bayangkan:Anda secara rutin dan konsisten menulis satu halaman sehari. Bila kegiatan ini Anda lakukan secara rutin, berarti dalam setahun Anda sudah berhasil menulis naskah setebal 365 halaman. Hm… bahkan 100 atau 50 halaman naskah pun sudah bisa menjadi sebuah buku. Apalagi 365 halaman, tentu lebih bisa lagi!

Catatan:Tidak ada rumus baku mengenai “kapan waktu yang tepat untuk menulis”. Masing-masing orang punya preferensi yang berbeda-beda. Silahkan cari sendiri waktu yang paling tepat dan paling menyenangkan untuk diri Anda sendiri.

Terima Kasih dan Salam Sukses!


Sumber: jonru.net

0 komentar: