twitter



By: Ali Imron
 
Aku tinggal di sebuah negeri omong kosong. Negeri dimana mereka lebih suka meributkan sesuatu yang baru akan mereka rencanakan untuk dilakukan. Ketika negeri ini masih sibuk berdebat tentang mau makan apa mereka? maka anak-anak mereka sudah mati kelaparan. Mereka sibuk memperdebatkan sistem yang terus menerus mereka ubah tanpa pernah sempat mereka lakukan.



Mereka lebih suka membanding-bandingkan Pancasila dengan ideologi-ideologi lain semisal sosialis, kapitalis, dan menyebutnya sebagai ideologi banci. Akan tetapi jangankan melaksanakannya, mereka bahkan tidak paham apa yang mereka bicarakan. Mereka adalah orang-orang yang hanya bisa mencemooh apa milik mereka sendiri. Mereka itulah banci sebenarnya.


Ada yang sibuk menyalahkan UU Pilkada. Pilkada yang tadinya dipilih secara langsung oleh masyarakat akan diganti dengan pilkada yang dipilih oleh DPRD. Pilkada langsung dirasa memiliki sejumlah kelemahan, antara lain biaya besar sehingga hanya bisa diikuti orang yang mempunyai modal besar. Dan ini rawan memunculkan nepotisme, politik uang dan politik balas budi.  Ayolah, masyarakat kita sudah mulai pandai memilih pemimpin yang baik. Janganlah kalian menjadi sok humanis kalau kenyataannya apa yang kalian hadapi belum bisa dikatakan sebagai manusia. Poliik kita hancur bukan karena sistem yang ada. Tetapi karena kita tidak bisa melaksanakan sistem yang ada. Bahkan sistem yang relatif sederhana pun tidak bisa kita lakukan tetapi kita berharap terhadap sistem yang rumit? Ah, omong kosong.


Mereka yang sibuk mencibir lalu lintas yang semrawut disaat mereka sendiri sering menerobos lampu merah. Mereka yang sibuk mencibir sistem yang ada tanpa pernah mereka mencoba untuk melaksanakannya. Mereka hanya berharap bahwa segala sesuatunya langsung jadi, tanpa harus mereka bersusah payah. Cukuplah pemerintah yang mengubahnya dalam waktu satu dua hari.


Aah... negeri ini memang negeri kata-kata. Berharap segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan kata-kata. Di saat kita sibuk mennyalahkan sistem, namun sebenarnya diri kitalah yang salah karena gagal menjalankannnya. Bukan sistem yang gagal meraih tujuan, tetapi kita yang gagal menjalankan sistem. Sebaik apapun strategi jika tidak kita lakukan tetap saja tidak berarti apa-apa. Tetapi menyalahkan sistem jauh lebih enak dihati, dari pada menyalahkan diri sendiri bukan?


Memang omong kosong. Kita ini omong kosong. Sudahlah lakukan saja dulu dan lihat hasilnya. Jika menanak nasi saja kita tidak bisa dan tidak mencoba untuk melakukannya, bagaimana kita bisa berharap makan nasi goreng?


Dosen saya pernah berkata, bahwa yang dibutuhkan dalam pembangunan Indonesia sebenarnya hanyalah stabilitas. Lihat saja betapa di negara kita ini, suatu sistem dapat diganti dengan mudahnya tanpa pertimbangan yang benar-benar matang. Selain itu pesatnya pembangunan masa orde baru dan pemerintahan sekarang ini tidak lepas dari adanya stabilitas itu sendiri.


Apa yang terjadi di negeri ini sebenarnya adalah kegagalan dalam menerapkan sistem yang telah kita susun. Namun apa yang kita lakukan selama ini selalu saja memperdebatkan hal-hal yang sifatnnya perencanaan tanpa pernah kita menerapkannya. Yang terjadi hanyalah ini semua menjadi sebuah omong kosong belaka tanpa penerapan.


Mungkin ada kalanya kita sesekali mencoba menerapkan sesuatu tanpa banyak omong semaksimal mungkin. Jika kita telah berhasil melakukannya, barulah kita evaluasi kesalahan yang ada. Jangan hanya ribut pada isu, namun kosong dalam praktek.

0 komentar: