Sebuah perbuatan yang
mencerminkan rasa menghargai terhadap seseorang atau sekelompok orang bisa
dikategorikan sebagai dalil menghormati. Pelajaran untuk saling menghormati selalu
didengungkan para pemuka agama, pemangku adat, orang tua, guru, dan siapapun
yang memiliki nurani menghargai keberadaan harkat dan martabat kemanusiaan
seorang manusia.
Sayang, naluri saling
menghormati secara tulus, ditengarai mulai dilupakan hamba Tuhan. Hal itu
nampak jelas ketika sebuah kebaikan yang berlandaskan azas saling menghormati
akan muncul dengan sendirinya apabila kita mampu menghadirkan sebuah pamrih
yang dikendalikan remote control politik ekonomi dengan kalkulasi untung rugi.
Pertanyaannya, kenapa kita
enggan saling menghormati? Kenapa kita sulit berbuat baik tanpa pamrih demi
memuliakan sebuah kebaikan yang hakiki? Kenapa kita tidak mau menerima
keberagaman orang lain tanpa mencurigainya? Kenapa kita sukar menghormati
perbedaan pendapat dengan orang lain? Dan kenapa pula kita seakan menjadi
‘mati’ justru ketika kita masih mampu menghirup napas kehidupan dengan bebas?
Permasalahan besar seperti itu
agaknya menjadi kecenderungan negatif yang melanda sebagian besar masyarakat
Indonesia. Anehnya lagi, belakangan ini, kita condong menjadi masyarakat yang
seragam dalam hal selera dan pemikiran. Kita cenderung emosional, mudah
tersinggung, senang menyimpan dendam, dan gampang naik darah ketika menghadapi
sebuah permasalahan yang terkadang tidak sesuai dengan pemikiran kita.
Terhadap permasalahan tersebut
di atas, kita seolah disihir dan dituntun untuk mengadopsi gaya hidup, cara
berpikir, gaya berbicara, dan pernak pernik moralitas sosial budaya ala
industri televisi. Kita didaulat menghargai kehidupan instan dengan memutus
rantai proses kehidupan. Padahal dengan mengikuti proses kehidupan, pada titik
ini dimulailah sebuah proses pendewasaan diri manusia.
Akibatnya, kita lebih
memercayai kehidupan realitas semu yang seragam. Sebuah realitas maya yang fiktif
belaka. Sebentuk tatanan kehidupan semu yang tidak menanamkan budi pekerti
dalam payung kearifan lokal. Sebuah kehidupan semu yang tidak menempatkan sikap
hormat menghormati sebagai pilar utama hidup bermasyarakat.
Pendeknya, sikap hidup saling
menghargai seperti dipolakan dalam kehidupan realitas semu, sejatinya
senantiasa bermuara pada kehendak daulat uang. Dalam konteks ini, untuk
dihormati, cara yang gampang ditempuh lewat perburuan harta benda. Kekayaan
duniawi diberhalakan demi sebuah kehormatan yang merepresentasikan
dirinya manusia modern. Pada bagian ini, kehormatan seseorang senantiasa
ditakar dengan seberapa banyak uang yang dimilikinya. Artinya, uang menjadi
penanda kasta sosial seseorang di tengah gejolak jaman yang semakin anomali
ini. Dampak turunannya, manusia menjadi semakin egois di dalam mempertahankan
hidupnya. Segala jalan ditempuh demi mendapatkan segenggam kehormatan. Hasrat
manusia untuk mendapatkan sanjungan, puja puji, dan dihormati secara artifisial
(tidak alami) kemudian diyakini menjadi sebuah kehidupan yang lebih baik.
Celakanya, sikap hidup semacam
itu mendapatkan peneguhannya dan secara kasatmata tercermin pada masyarakat
Indonesia yang lebih menyukai kemasan kehidupan glamour. Setiap saat menggelar
pesta dengan berbagai tajuk untuk merayakan momentum kesuksesan dan kebahagian
individu atau kelompok.
Perilaku sebagian besar
masyarakat Indonesia seperti tersebut di atas semakin menegaskan keterpurukan
kita sebagai masyarakat yang miskin imajinasi. Masyarakat yang cenderung
menisbikan keselarasan nalar rasa dan nalar pikir.
Hati nurani kita nyaris
tertutup awan hitam yang bersifat artifisial (tidak alami). Sehingga
semangat untuk saling menghormati dan senantiasa menyebarkan aura kebaikan
menjadi tenggelam akibat disibukkan oleh pemikiran-pemikiran pragmatis,
egoistis, dan individualistis.
Pertanyaan berikutnya, kenapa
kita sulit untuk saling menghormati dan selalu berbuat baik tanpa
diembel-embeli berbagai kepentingan yang bersifat duniawi? Kenapa pula kita
belum mampu melakukan sebuah kebaikan dalam jagat kehidupan yang manusiawi
tanpa harus disorot?
Mewartakan Kasih Sayang
Lewat ajakan saling
menghormati, selalu berbuat baik dan menerima apa adanya kebhinekaan ambisi dan
gejolak hasrat manusia, akan menunjukkan kualitas kemanusiaan dari manusia itu
sendiri. Artinya, ketika kualitas kemanusiaan manusia dari waktu ke waktu
semakin terasah kepekaannya, hal itu diyakini mampu mendengarkan pesan suci
yang timbul dari hati nurani. Sebuah pesan suci yang menuntun nalar rasa dan nalar
pikir kita untuk senantiasa mewartakan kasih dan mengamalkan rasa sayang kepada
seluruh manusia. Sekarang saatnya kita merelakan hati untuk selalu berbuat
baik, saling menghormati dengan memilih hidup bersahaja.

