Perjalanan dari pesisir menuju pegunungan kali ini memakan waktu
lebih dari satu jam. Semakin lama jalanan yang yang harus kami lalui makin sulit.
Tidak hanya berbelak-belok, tapi juga banyak tanjakan terjal yang membuat motor
tersendat-sendat karena memang tak terbiasa jalan dimedan ekstrim. Parahnya
lagi aku belum servis motor.
Medan ekstrim itu sungguh menantang ditambah
dengan buruknya kondisi aspal, begitu banyak yang mengelupas atau berlubang.
Aku gugup, belum lagi Putri yang sedari tadi histeris. Ya, kurasa itu cukup
memberi hiburan bagiku karena ia tak segan merangkulkan tangannya ke perutku
sambil berteriak “Hati-hati Mas!”
Tak sia-sia pemandangan alam dari atas Pegunungan itu sangatlah
luar biasa. Kami pun melepas lelah disebuah gardu. Di sana, kami bisa
melayangkan pendangan ke sepanjang pegunungan yang membentang berbatasan dengan
cakrawala. Hanya berbentuk garis biru yang melengkung saja. Bangunan-bangunan
megah seperti halnya sekolah atau pemukiman warga kota cuma terlihat sebagai
persegi, berwarna merah atau di antara titik merah lainnya yang merupakan atap
rumah-rumah penduduk. Bisa kulihat pula deretan tower milik PLN. Mungkin kalau
malam hari akan kelihatan sangat bagus, karena disetiap tower ditandai dengan
lampu-lampu yang berkerlip-kerlip.
Putri sibuk dengan HP-nya. Sesekali ia berkomentar tentang
luarbiasanya pemandangan di Pegunungan. Aku senang bisa melihatnya rileks
seperti ini.
“Gimana, kamu senang kan?”sembari duduk di sampingnya.
“Luar biasa”. Ia tersenyum ceria.
“Ya, sebenarnya ini yang ku inginkan. Sesekali waktu menikmati
hidup dengan rileks dan santai. Karena rugi bila kita tidak mensyukuri nikmat
dari Allah, termasuk alam yang begini indah”.
Putri menganguk menyetujui pendapatku.
“Iya, terima kasih mas... Untung kamu mengajak aku. Sebenarnya, aku
sempat ingin menolak, tapi entah kenapa aku ingin juga pergi”.
“Ya... kalau begini, kita ada waktu untuk bicara dari hati-kehati.
Selama ini aku selalu saja bimbang dengan sikap acuhmu. Ada apa sebenarnya?”
aku sengaja membidik kesasaran.
Putri menghela napas panjang. Terdiam, memandang jauh. Barisan
perbukitan menoreh yang seolah-olah membuat dinding raksasa yang menjadi batas
terakhir dengan langit sebagai atap sebuah rumah semesta.
“Untuk bilang kalau aku mencintaimu pun, tak ada kesempatan. Sebab,
kamu seperti selalu menghindar dariku. Apa... kamu sudah punya tambatan hati?”
Mendengar pernyataan ini Putri berbalik menatapku. Sebentar saja,
lalu kembali melayangkan pandangan ke deretan menghijau dari kejauhan.
“Sampean itu yang tidak pernah bisa tegas! Tak pernah memaksaku
untuk mengerti apa yang ada di dalam hati. Lagi pula selama ini kita adalah partner
dalam perjuangan memperjuangkan kebenaran. Tak lebih, kan?”
Aku hanya bisa menikmati kecantikan wajahnya dari samping. Sempurna!
Dia adalah cantik yang sesungguhnya. Entah apa yang membuatku tergila-gila
padanya.
“Ya, sebab aku takut di tolak mentah-mentah! Tapi tidak untuk saat
ini!”
Debar-debar di dada saat kami bertemu pandang. Ya, tak kuragukan
lagi jika binar cinta itu ada pula di mata Putri. Membuatku memberanikan diri
meraih jemarinya. Ingin ku tautkan perasaan mendalam yang aku miliki untuknya. Ia
pun tak menolak.
“Kamu mau terima cintaku, kan? Maukah kau mendampingi perjalanan
hidupku? Kita hadapi semuanya dengan selalu bersama-sama.”
Mata kami beradu. Lalu, senyum malu mengambang dibibir cantiknya. Putri
menunduk, membalas genggaman tanganku. Ya, aku telah bisa menyimpulkan
jawabannya. Tapi, dia masih terdiam.
“Ya... atau...tidak?”
Putri menyandarkan kepalanya di bahuku. Gila! Belum pernah aku
merasakan bahagia seperti ini! Rasanya melayang-layang. Aku seolah bisa terbang
dari ketinggian pegunungan, terbang menuju laut utara.
Suara nada dering HP-ku membuyarkan luapan rasa cinta. Seperti tersadar,
Putri melepas pegangan tanganku. Aku pun dengan enggan melepasnya. Aku masih
bisa mengontrol diri. Tidak akan kulanggar tatanan adat. Sebelum menikah, tidak
akan kusentuh dan kurusak pagar ayu seorang perempuan, apalagi yang sangat
kucintai. Tak berani kulakukan meski aku ingin memeluknya sebagai ungkapan rasa
cinta. Tidak! Itu tidak akan kulakukan.
Oktober 2014
By: Ali Imron

