twitter



Perjalanan dari pesisir menuju pegunungan kali ini memakan waktu lebih dari satu jam. Semakin lama jalanan yang yang harus kami lalui makin sulit. Tidak hanya berbelak-belok, tapi juga banyak tanjakan terjal yang membuat motor tersendat-sendat karena memang tak terbiasa jalan dimedan ekstrim. Parahnya lagi aku belum servis motor.
Medan ekstrim itu sungguh menantang ditambah dengan buruknya kondisi aspal, begitu banyak yang mengelupas atau berlubang. Aku gugup, belum lagi Putri yang sedari tadi histeris. Ya, kurasa itu cukup memberi hiburan bagiku karena ia tak segan merangkulkan tangannya ke perutku sambil berteriak “Hati-hati Mas!”

Tak sia-sia pemandangan alam dari atas Pegunungan itu sangatlah luar biasa. Kami pun melepas lelah disebuah gardu. Di sana, kami bisa melayangkan pendangan ke sepanjang pegunungan yang membentang berbatasan dengan cakrawala. Hanya berbentuk garis biru yang melengkung saja. Bangunan-bangunan megah seperti halnya sekolah atau pemukiman warga kota cuma terlihat sebagai persegi, berwarna merah atau di antara titik merah lainnya yang merupakan atap rumah-rumah penduduk. Bisa kulihat pula deretan tower milik PLN. Mungkin kalau malam hari akan kelihatan sangat bagus, karena disetiap tower ditandai dengan lampu-lampu yang berkerlip-kerlip.

Putri sibuk dengan HP-nya. Sesekali ia berkomentar tentang luarbiasanya pemandangan di Pegunungan. Aku senang bisa melihatnya rileks seperti ini.

“Gimana, kamu senang kan?”sembari duduk di sampingnya.

“Luar biasa”. Ia tersenyum ceria.

“Ya, sebenarnya ini yang ku inginkan. Sesekali waktu menikmati hidup dengan rileks dan santai. Karena rugi bila kita tidak mensyukuri nikmat dari Allah, termasuk alam yang begini indah”.

Putri menganguk menyetujui pendapatku.

“Iya, terima kasih mas... Untung kamu mengajak aku. Sebenarnya, aku sempat ingin menolak, tapi entah kenapa aku ingin juga pergi”.

“Ya... kalau begini, kita ada waktu untuk bicara dari hati-kehati. Selama ini aku selalu saja bimbang dengan sikap acuhmu. Ada apa sebenarnya?” aku sengaja membidik kesasaran.

Putri menghela napas panjang. Terdiam, memandang jauh. Barisan perbukitan menoreh yang seolah-olah membuat dinding raksasa yang menjadi batas terakhir dengan langit sebagai atap sebuah rumah semesta.

“Untuk bilang kalau aku mencintaimu pun, tak ada kesempatan. Sebab, kamu seperti selalu menghindar dariku. Apa... kamu sudah punya tambatan hati?”

Mendengar pernyataan ini Putri berbalik menatapku. Sebentar saja, lalu kembali melayangkan pandangan ke deretan menghijau dari kejauhan.

“Sampean itu yang tidak pernah bisa tegas! Tak pernah memaksaku untuk mengerti apa yang ada di dalam hati. Lagi pula selama ini kita adalah partner dalam perjuangan memperjuangkan kebenaran. Tak lebih, kan?”

Aku hanya bisa menikmati kecantikan wajahnya dari samping. Sempurna! Dia adalah cantik yang sesungguhnya. Entah apa yang membuatku tergila-gila padanya.

“Ya, sebab aku takut di tolak mentah-mentah! Tapi tidak untuk saat ini!”

Debar-debar di dada saat kami bertemu pandang. Ya, tak kuragukan lagi jika binar cinta itu ada pula di mata Putri. Membuatku memberanikan diri meraih jemarinya. Ingin ku tautkan perasaan mendalam yang aku miliki untuknya. Ia pun tak menolak.

“Kamu mau terima cintaku, kan? Maukah kau mendampingi perjalanan hidupku? Kita hadapi semuanya dengan selalu bersama-sama.”

Mata kami beradu. Lalu, senyum malu mengambang dibibir cantiknya. Putri menunduk, membalas genggaman tanganku. Ya, aku telah bisa menyimpulkan jawabannya. Tapi, dia masih terdiam.

“Ya... atau...tidak?”

Putri menyandarkan kepalanya di bahuku. Gila! Belum pernah aku merasakan bahagia seperti ini! Rasanya melayang-layang. Aku seolah bisa terbang dari ketinggian pegunungan, terbang menuju laut utara.

Suara nada dering HP-ku membuyarkan luapan rasa cinta. Seperti tersadar, Putri melepas pegangan tanganku. Aku pun dengan enggan melepasnya. Aku masih bisa mengontrol diri. Tidak akan kulanggar tatanan adat. Sebelum menikah, tidak akan kusentuh dan kurusak pagar ayu seorang perempuan, apalagi yang sangat kucintai. Tak berani kulakukan meski aku ingin memeluknya sebagai ungkapan rasa cinta. Tidak! Itu tidak akan kulakukan. 

Oktober 2014
By: Ali Imron

0 komentar: