twitter



Saat ini kita masih bisa merasakan gegap gempita Sumpah Pemuda lewat teks buku sejarah. Kita bisa ikut merayakan gegap gempita Sumpah Pemuda di lapangan, kampus, dan sekolah-sekolah. Kita bisa ikut meragakan gegap gempita Sumpah Pemuda dengan berteriak: Saya bangsa
Indonesia, dan saya sudah merdeka!

Namun, tunggu dulu. Apakah “bangsa Indonesia” yang kita teriakkan tadi sama persis dengan “bangsa Indonesia” 86 tahun yang lalu? Apakah “bangsa Indonesia yang ada di bibir kita sesuai dengan “bangsa Indonesia” yang ada di sanubari pemuda-pemuda senasib 86 tahun yang lalu?

Apakah bangsa Indonesia yang dimaksud adalah bangsa yang membiarkan saudara-saudaranya di luar sana hidup serba kekurangan, menderita, dan merasa terpinggirkan? Sehingga “pantas saja” jika saudara muda mereka ini ingin pergi dari rumah dan memulai hidupnya sendiri.

Apakah bangsa Indonesia yang dimaksud Mohammad Yamin adalah bangsa yang diam saja ketika wilayahnya dipersempit oleh negara tetangga? Diam saja ketika pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara sudah bersertifikat milik orang-orang Eropa.

Apakah bangsa Indonesia yang dimaksud oleh pemuda-pemuda senasib adalah bangsa yang tidak bangga dengan bahasanya? Bangsa yang menghancurkan bahasanya sendiri dengan mencampur-adukkan bahasa-bahasa asing ke tubuh bahasa mereka dan enggan menggunakan bahasa mereka karena mereka anggap bahasa mereka itu kampungan dan ketinggalan zaman.

***
Bukan kami yang mengucap sumpah 86 tahun yang lalu. Tetapi kakek tua renta yang duduk di seberang sana. Maka tidak ada ikatan apa pun bagi kami.

Sungguh, Kek, apa yang kakek lakukan 86 tahun silam itu tidak berarti apa-apa bagi kami. Mungkin bagi kakek, itu adalah sebuah bukti pengorbanan dan rasa cinta taah air bagi kakek. Namun bagi kami, disaat kini dimana cinta tanah air sudah tidak lagi populer dan dianggap sebagai sebuah fanatisme sempit dan tergeser oleh tatanan masyarakat global, apa yang kakek lakukan hanya tinggal coretan kata di buku pelajaran anak-anak yang masih memakai baju putih-merah.
Kek, aku ingin bertanya sesuatu. Apa itu tanah air?

Kami pun tidak tahu. Sesungguhnya kami adalah warga negara Indonesia. Kami hanya manusia yang bermukim di wilayah yang kebetulan merupakan bagian dari wilayah Indonesia. Bukan berarti kami rela menumpahkan darah demi tempat tinggal kami.

Sungguh jika kami mampu, maka kami akan lebih memilih tinggal di negara-negara Eropa sana untuk agar bisa memadu kasih di bayang-bayang keindahan Eiffel atau tersesat di keramaian kota New York.

Hanya saja kami tidak mampu. Takdir mendamparkan kami di negeri yang masyarakatnya banyak di bawah garis kemiskinan atau tepat di garis kemiskinan tersebut. Negeri dengan ketimpangan ekonomi yang sangat besar. Dan sebuah negara besar yang bahkan tidak berkutik meski berulang kali diusik oleh tetangganya.
Jadi buat apa kami menumpahkan darah untuk tanah ini?

Sungguh hanya orang-orang bodoh yang rela menumpahkan darah dan berperang hanya demi apa yang mereka sebut harga diri. Heran saja di zaman globalisasi ini masih ada orang yang fanatik sempit hanya untuk apa yang mereka sebut tanah air. Kami hanyalah warga negara, kami bukan penduduk. Tidak ada kewajiban bagi kami untuk membela apa yang disebut tanah air. Bahkan kami tidak mengerti apa itu.
Sadarlah, Kek. Belanda itu tidak lagi berkuasa.

Tidak ada lagi istilah menyatukan keragaman. Di masa sekarang ini yang sedang trend adalah upaya mempertahankan keragaman. Tidak perlulah kalian berbohong dengan berkata hanya ada satu bangsa di NKRI ini.

Bahkan secara nyata tampak dari dulu bahwa negara ini didiami oleh bermacam-macam bangsa yang berbeda baik itu pribumi maupun pendatang. Secara ilmiah, tidak ada apa itu yang kalian sebut sebagai Bangsa Indonesia.

Selama 32 tahun Orde Baru istilah Bangsa Indonesia hanya digunakan orang-orang Jawa dalam upayanya menjajah daerah-daerah lain. Kini lihatlah mereka mulai sadar bahwa tidak ada Bangsa Indonesia, yang ada adalah Bangsa Jawa yang memaksakan bangsa-bangsa lain di NKRI ini untuk mengikuti mereka.

Jadi, Kek, kenapa kalian berbohong bahwa kalian itu sama?
Kenapa kalian membuat sumpah palsu bahwa kalian itu satu?

Bukankah pada kenyataannya kalian itu berbeda-beda dan itu tidak dapat dipungkiri lagi. Mungkin hanya satu kesamaan kalian pada waktu itu yaitu: sama-sama dijajah!!!
Kenapa pula Kakek bangga mengaku bagian dari mereka (Indonesia)?

Lihatlah mereka adalah sekumpulan orang-orang yang malas bekerja dan korup. Tidak ada yang membanggakan dari mereka. Lihatlah negara yang kaya ini hancur bukan karena orang lain, tetapi karena perilaku mereka sendiri.

Lalu apa yang Kakek banggakan dengan mengaku bahwa kalian adalah satu: Bangsa Indonesia?
Kek, ingatkah adikku yang paling kecil kini bersekolah di Taman Kanak-Kanak?

Disana dia tidak lagi diajari bahasa persatuan kalian itu. Ini era globalisasi. Maka kini Bahasa Persatuan kami adalah Bahasa Inggris. Bahasa Inggris lah yang menyatukan kami dengan negara-negara lain. Bahasa Inggris pula lah yang menunjukkan seberapa terpelajar kami di masayarakat kita ini.

Maka jangan heran jika kini orang tua kami lebih suka menyekolahkan anaknya di sekoah yang mengajarkan Bahasa Persatuan kami itu. Jangan heran pula jika kini kami lebih suka menggunakan istilah asing dalam keseharian kami. Karena bahasa persatuan kami adalah Bahasa Inggris.

Cukuplah Bahasa Persatuan kalian itu dipelajari dalam sekolah- sekolah kami dari umur 5tahun hingga 18tahun, tidak lebih. Dan jangan berharap kami akan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari kami karena itu sangat memalukan. Mana mungkin di zaman globalisasi ini kami masih menggunakan bahasa konvensional itu??

Lihatlah buku-buku kami, dapatkah Kakek temukan Bahasa Persatuan kakek?

Lihatlah selebaran-selebaran kami yang dipenuhi istilah-istilah Bahasa Persatuan kami. Lihatlah forum-forum terpelajar kami yang mulai meninggalkan Bahasa Persatuan kakek karena sudah ketinggalan zaman. Kek,kenapa 86 tahun yang lalu kalian tidak bersumpah saja menjunjung tinggi Bahasa Inggris?

Sekali lagi, Kek, kami sungguh tidak paham dengan kalian. Mengapa kalian membuat sumpah semacam itu 86 tahun yang lalu?

Tidak tahukah kakek bahwa Sumpah dan Janji itu sangat sakral dan harus ditepati?
Tapi untunglah, Kek, bukan kami yang bersumpah melainkan kalian.
Sumpah pemuda itu sumpahnya siapa?

Jika memang pemuda pada zaman itu yang bersumpah, maka tentu kini sumpah itu menjadi sumpah orang tua. Namun sumpah pemuda adalah sumpah yang melekat kepada seluruh pemuda di Indonesia tanpa mengenal zaman.

Sumpah pemuda kini tidak lebih dari sekedar hiasan dinding di gedung-gedung sekolah tua. Para pemuda lupa akan sumpah yang tidak pernah mereka ucapkan tersebut.

Terlepas dari itu semua sumpah pemuda berisi harapan akan Indonesia yang bersatu. Indonesia yang melupakan label-label kedaerahannya dan menyatu menjadi sebuah masyarakat yang satu.

***
Ini merupakan suatu tantangan tersendiri, dimana Indonesia didiami oleh bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda. Terlebih lagi di zaman sekarang ini dimana keragaman semakin diperkuat.

Sumpah pemuda menyadarkan kita mengapa Indonesia tidak menjadi negara serikat. Negara serikat memelihara keragaman dan menyatukan keragaman tersebut dalam suatu ikatan formal. Namun para pendahulu kita menginkan negara yang satu, negara yang meskipun terdiri dari berbagai macam bangsa namun melebur menjadi satu yaitu bangsa Indonesia, yang memiliki tanah tumpah darah yang satu, dan berbahasa satu.

Sumpah Pemuda bukanlah pernyataan perang, Sumpah Pemuda juga bukanlah strategi rahasia untuk lepas dari cengkeraman penjajah, Sumpah Pemuda ini “hanya” titik awal. Dari Sumpah Pemuda bangsa ini berasal. Dari Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda yang merasa satu nasib, menggagas konsep suatu bangsa yang mereka namai Indonesia. Dari Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda yang merasa satu nasib, memberi batas jelas pada nusantara mereka, bahwa nusantara mereka adalah tanah air mereka, tanah mereka bertumpah darah. Dari Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda yang merasa satu nasib, sepakat untuk hanya menggunakan satu bahasa sebagai pemersatu mereka. Dari Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda yang merasa satu nasib, melahirkan Indonesia.


***Sumber Referensi: KBBI, Historiografi Indonesia, Khusni Mustaqim-Catatan Bangsa Yang Aneh

0 komentar: