Minggu yang cerah. Andi tampak sedang melangkah
menuju ke rumah Budi. Rupanya dia sengaja datang ke rumah itu untuk meminta Farida
agar mau mengantarkannya pergi ke rumah Atika. Maklumlah, hingga hari ini Andi
memang belum mengetahui keberadaan rumah Atika. Namun setibanya di tempat
tujuan, dia malah tidak jadi berangkat ke sana. Hal itu dikarenakan saat itu
Atika justru sedang bertamu ke rumah Farida. Kini Andi, Atika, Budi, dan Farida
tampak sedang berbincang-bincang di teras muka. Hingga akhirnya Budi dan
istrinya sengaja pamit ke dalam dengan maksud memberi kesempatan kepada kedua
muda-mudi itu agar bisa berduaan.
“Atika... bolehkah aku melihat wajahmu itu sebentar
saja! Sebab hari ini aku sudah berniat untuk melamarmu,” pinta Andi kepada
Atika.
“Benarkah yang kau katakan itu, Kak?”
Andi mengangguk.
“Kalau memang demikian, tentu saja aku bersedia.
Sebab kau memang berhak untuk melihat lebih dulu gadis yang hendak kau lamar.
Andai kau suka, kau boleh melamarku. Andai pun tidak, itu adalah hakmu untuk
menentukan pilihan,” kata Atika
Atika seraya membuka cadarnya dengan perlahan.
“Ka-kau...” Andi tampak terkejut ketika Atika telah
membuka seluruh cadarnya.
“Ya, ini aku. Zahra… Atika Zahra. Gadis yang selama
ini terus berusaha keras untuk mendapatkan cintamu kembali, yang mana selama
ini sudah membenciku dan mendugaku melakukan perbuatan terlarang, dan itu semua
karena kesalahpahaman.”
“Ketahuilah! Setelah kepergianmu aku betul-betul
kehilanganmu. Dan sejak saat itu aku terus bercermin kenapa Tuhan sampai
menjauhkanmu dariku. Semula aku menduga
kau bukanlah pemuda yang baik untukku. Namun setelah aku mengerti akan arti
prasangka baik, maka aku pun kembali berkaca. Saat itu aku merasa justru sebaliknya,
bahwa aku bukanlah gadis yang pantas untukmu. Lantas aku berusaha untuk
berprasangka baik, kalau kau itu adalah pemuda yang baik, dan karenanyalah
Tuhan tak mengijinkan aku untuk bisa bersamamu”.
Andi hanya terdiam mendengar penjelasan dari Atika.
“Dan sejak saat itulah aku melihat kekuranganku itu,
yaitu aku belum menjadi gadis yang sesuai dengan tuntunan agama. Sejak saat
itulah, aku mulai berhijab dengan sempurna dan terus memperdalam ilmu agamaku
seraya mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Setiap hari aku tak lupa untuk
terus berdoa dan berharap, andai suatu saat aku sudah menjadi gadis yang
shalihah kiranya Tuhan berkenan untuk mempersatukan kita lagi. Hingga suatu
hari harapanku itu sepertinya terbuka lebar, yaitu ketika kita bertemu kembali
di tepi telaga. Saat itu, sebetulnya aku ingin sekali mengungkap jati diriku,
namun entah kenapa aku merahasiakannya
dengan memakai nama Atika. Nama yang selama ini tidak banyak orang yang
mengetahuinya, karena aku memang tidak pernah menggunakannya lagi lantaran nama
itu adalah pemberian ayahku yang begitu kubenci. Aku membenci ayahku karena
sebab ia telah menceraikan ibuku. Namun sekarang, nama itu sudah kembali
menjadi nama depanku, dan itu dikarenakan aku sudah memahami agama dengan lebih
baik, sehingga aku pun bisa memaafkan ayahku. Dan berkat nama itu, juga
penampilan baruku, akhirnya aku kembali membuatmu jatuh cinta untuk yang kedua
kali.”
Andai saat itu aku langsung membuka jati diriku
tentu kau akan menjauh dariku, dan aku tentu tidak akan mempunyai kesempatan
lagi. Dan karena kekhawatiran itu pulalah yang membuatku terpaksa kembali
bersandiwara, yaitu setelah kau mengungkapkan perihal kesalahpahaman mengenai
apa yang terjadi antara aku dan Hasan di telaga petang itu. Saat itu, sebelum kalian datang menemuiku.
Budi sempat meneleponku dan memintaku untuk kembali menjadi Zahra yang dulu,
yaitu menjadi Zahra yang belum berbusana dengan sempurna.
Dan aku pun terpaksa
melakukan itu oleh sebab kekhawatiran Budi yang sangat masuk akal, sama seperti
kekhawatiranku juga. Bahwasannya, setelah kau mengetahui kalau Atika adalah
aku, maka kau pasti akan meninggalkannya juga. Selain itu, sebetulnya Budi juga
ingin mengetahui perihal benar-tidaknya perzinahan yang kau tuduhkan itu. Sebab, dia sendiri memang betul-betul ingin mengetahuinya, apa aku ini betul-betul
berzinah dengan Hasan atau tidak. Ketika dia meneleponku waktu itu, dia pun
sama sekali tidak membicarakan perihal tuduhanmu itu. Karena dia ketika kalian membicarakan masalah
itu di rumahku, aku betul-betul terkejut dibuatnya. Dan karena aku memang tidak
melakukan itu, aku pun menceritakan apa adanya. Tapi sayangnya saat itu kau
tetap tidak percaya, dan saat itulah
terlintas pikiran agar kau menemui Hasan dan mendengar sendiri cerita darinya.
Saat itu, Budi yang memang mempercayai ceritaku juga setuju dengan gagasanku,
dan dia pun berusaha meyakinkanmu kalau gagasanku itu adalah sebuah bukti yang
bisa merubah penilaianmu. Tapi sayangnya, lagi-lagi kau masih juga tidak
mempercayainya. Dan semua itu lantaran kesombonganmu yang merasa telah menjadi
orang baik, sehingga kau merasa lintasan pikiran perihal aku menelepon Hasan
sebelum kalian tiba di sana adalah petunjuk dari Tuhan. Padahal sesungguhnya
lintasan pikiran itu bukan dari Tuhan, melainkan dari setan yang berupaya
memperdayamu agar kau menjadi sombong dengan tanpa kau sadari. Ingatlah, Kak! Semakin kau memahami ajaran
agama, maka setan yang menggodamu pun akan semakin lihai. Mereka berusaha
memperdayamu dengan hal-hal yang kau anggap berasal dari Tuhan. Aku mengetahui
perihal ketidakpercayaanmu itu dari Budi, sebab kau sudah menceritakan hal
itu padanya, yaitu disaat kau pulang
dari membeli cincin untuk Atika. Karenanyalah Budi mengundangku ke mari, dan
dia juga memintaku untuk menceritakan semua ini apa adanya. Sebab hanya dengan
cara inilah mungkin kau mau mengerti.”
“Benarkah yang kau katakan itu?” tanya Andi ragu.
“Tentu saja benar. Namun kini aku sudah mempasrahkan
semuanya kepada putusan Tuhan yang Maha Mengetahui, apakah kita bisa bersatu
kembali atau tidak. Dan apakah Tuhan akan menolongmu dengan memberi petunjuk
yang benar, atau Dia akan tetap membiarkanmu di dalam kesesatanmu yang sudah
menjadi sombong lantaran kau merasa menjadi orang baik yang selalu diberi
petunjuk oleh-Nya, padahal sebenarnya setanlah yang sudah memberimu petunjuk
yang menyesatkan itu.”
Mendengar kata-kata Atika barusan, membuat Andi
kembali berpikir dan berpikir. Hingga akhirnya wajah pemuda itu tampak damai
karena sudah menyesali segala kekeliruannya.
“Alamak.... ternyata
Gadis cantik yang pernah kubenci itu adalah Atika. Gadis baik yang
memang tidak mungkin berani melakukan itu. Sungguh tidak layak aku membencinya
lantaran dugaan yang tak kuketahui dengan jelas. Biarlah kini aku serahkan
kepada Tuhan saja, dan semuanya tentu akan terbukti setelah malam pertama
nanti. Andai dia memang sudah tidak perawan lagi, aku kan tinggal
menceraikannya. Dan jika dia memang masih suci, tentu aku adalah pemuda
beruntung yang bisa mendapatkannya.” Ucap Andi dalam hati
Saat itu Andi langsung memandang Atika dengan penuh
keyakinan. Seiring dengan itu, Atika langsung tertunduk dan segera memakai
cadarnya kembali.
“Atika… maukah kau menikah denganku?”
Saat itu Atika tidak menjawab, sebuah pertanda bahwa
dia memang bersedia. Ketika kata lamaran itu terucap, di dalam hatinya, gadis
itu sempat meragukan kalau Andi adalah suami idamannya. Maklumlah, selama ini
sedikit banyak dia sudah mengetahui beberapa sifat Andi yang tak berkenan di
hatinya. Biarpun begitu, akhirnya dia percaya kalau sifat yang tak berkenan itu pasti bisa
berubah, hingga akhirnya dia pun tak terlalu mempersoalkannya. Yang jelas, dia
mau menikah dengannya bukan karena cinta buta, namun lebih kepada keimanan dan
niat baik Andi yang mau menikahinya dengan cara yang halal. Sebab dia
menyadari, tujuan utamanya menikah adalah untuk beribadah.
Kini dia sudah menyadarinya, kalau penampilan fisik
dan kepribadian yang tak berkenan bukanlah sesuatu yang terpenting dalam
membina suatu hubungan. Sebab, jika hati sudah menerima dan perbedaan bukanlah
masalah tentu tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Lagi pula, bukankah
manusia itu bisa berubah kapan saja, dan karena itulah perceraian dihalalkan
karena manusia memang makhluk lemah yang mungkin saja tidak mampu dalam
mempertahankan bahtera rumah tangganya.
Walaupun perceraian itu dibenci Tuhan, namun Tuhan
tetap Maha Penyayang. Karena Tuhan, manusia diberi kesempatan untuk menjalani
kesempatan berikutnya dan menjadikan peristiwa
yang dialaminya itu sebagai pelajaran guna bisa memaknai arti kehidupan.
Dan karena itulah, Atika sama sekali tidak takut dengan perceraian. Sebab dia
percaya, jika mereka memang betul-betul mau mengikuti petunjuk Tuhan, dia yakin
perceraian itu tidak akan pernah terjadi. Perceraian hanya bisa terjadi jika
salah-satu dari mereka sudah kalah oleh bisikan setan yang menyesatkan.
Sehingga ego akan lebih bermain ketimbang nuraninya yang senantiasa berkata
jujur. Bahkan kini Atika mencoba untuk
mempercayai Andi sepenuhnya, kalau pemuda itu kelak bakal menjadi suami
idamannya, walaupun dia menyadari hal itu bisa saja bertolak belakang. Sebab
dia memang belum mengetahui tabiat aslinya, yang mungkin saja tidak sesuai
harapan. Itulah yang dinamakan cinta sejati, yang dibina atas dasar
kepercayaan. Sebab, kepercayaan itu adalah bagian pada cinta itu sendiri. Yang
tanpanya, cinta tidaklah sempurna.
Andi pun yakin untuk melamarnya karena dia mau
menikah semata-mata karena Allah, dan dia akan menjadikan kehidupan rumah
tangganya sebagai ladang amal yang akan menambah kedekatannya kepada Allah. Dan
jika gadis itu terbukti masih suci, tentu gadis seperti itulah yang diyakini
bisa menyempurnakan akidahnya, yaitu gadis yang berkomitmen teguh dan optimis
untuk bisa bersama-sama mengarungi kehidupan di dalam sebuah bahtera rumah
tangga yang diridhai Allah.
Coretan Tinta: Cerpen karangan Ali Imron
Coretan Tinta: Cerpen karangan Ali Imron

