twitter




22 September 204

Organisasi yang sedang mengalami masa-masa sulit tak ubahnya seperti keadaan benda yg sedang terjatuh dari ketinggian. Bisa jadi benda itu akan remuk, hancur, atau memantul lebih tinggi dari tempat dijatuhkan. Jatuhnya sebutir jeruk dari atas pohan pasti akan remuk.
Jatuhkan sebuah bola keras yang terbuat dari karet dan bola itu akan memantul balik. Maka yg perlu dilakukan adalah menjadikan keterpurukan dan masa-masa sulit itu seperti sebuah bola karet yg akan memantul kembali, bahkan
lebih tinggi.

"Hanya kita yg memutuskan apakah akan menempuh jalan itu atau tidak. Itu akan bergantung pada kita akan belajar memantul. Bagaimanapun kita tidak akan menyia-nyiakan kejatuhan dari ketinggian yang sangat bagus," 

“S” tercenung mendengar ucapan “Z”. Dia kembali bersemangat untuk membuat organisasinya bangkit dari keterpurukan. Tentunya setiap langkahnya selalu dikonsultasikan dengan kawan seperjuangannya itu.

***

“Seharusnya yg ngasih materi angkatan 201* itu angkatan 20*3, dan untuk pengurus saya harapkan dikasih penugasan, entah itu menulis satu minggu sekali atau apalah yg sekiranya tugas itu berkaitan dg tulis-menulis” celetuk ‘S’ membuka obrolan dg kawan seperjuangannya.

 “Terus kesibukan anggota baru gimana? Apa mau dikasih penugasan juga?”
Dengan gaya agak nyeleneh ‘U’ menimpali perkataan ‘Z’. “gini aja ‘Z’ untuk anggota baru kita kasih tugas suruh nulis dayre. Kegiatan apa saja yg mereka lakukan selama satu minggu,dengan begitu kita bisa tau waktu-waktu luang mereka”.

Walaupun dari tadi Cuma diam, seolah tidak menggubris obrolan mereka bertiga, si ‘E’ akhirnya mengeluarkan suara. “disuruh nulis dayre apa penugsan saja”.

Dari obrolan mereka berempat, memang membuktikan adanya keseriusan untuk membenahi organisasi yang dirasa sudah mulai terpuruk. Bukan karena tidak adanya kader, akan tetapi lebih kepada tidak adanya potensi dari masing-masing kader.

“Bagaimana LPM kedepannya?”
Mungkin itu pertanyaan yang ada dibenak mereka.

“Gini sebenarnya saya punya unek-unek untuk menambahkan materi yg sifatnya bisa membangun MENTAL, sebab bukan cuma bisa menulis, mereka juga harus punya mental. Ketika disuruh wawancara kepada siapa saja mereka berani, entah itu dg Rektor, walikota atau yg lain. Bukan Cuma materi sastra & jurnalistik. Mngkin ‘S’ punya materi pengembangan mental? Kamu kan pernah jadi juara dalam lomba DEBAT tingkat Provinsi, dan itu pastinya sangat membutuhkan mental”.

“saya setuju dg usulan ‘Z’dan saya rasa kita juga harus bisa memposisikandiri antara pengurus dan anggota. Kita jangan terlalu berlebihan kepada mereka, sebab itu akan berdampak pada kita, bisa-bisa mereka menyepelekan apa yg kita ucapkan. Seolah-olah Wibawa kita gak ada, memang kita gak butuh dihormati, tapi ketika kegiatan saya takutnya mereka kurang serius”. Sahut ‘S’ dengan tegas, walaupun dia sudah kelihatan sangat lelah. Tapi besarnya keinginan membangun dan memperbaiki organisasi, membuat rasa lelah itu hilang.

“bukan seperti itu, tujuannya biar lebih akrab dengan mereka, supaya rasa kekeluargaannya terasa. Sebab ketika ada jarak antara pengurus dan anggota nanti rasa kebersamaan, kekeluargaan akan terasa berbeda”. Jelas ‘U’ mempertegas argumennya apa.

“Gini sebenarnya keduanya itu disa kita dipadukan. Yang terpenting antara pengurus satu dengan pengurus yang lain harus searah. Ketika pengurus satu menyuruh sholat dan pengurus yang lain ada yang asik ngajak ngobrol dengan anggota, itu yang salah. Mereka bisa saja beranggapan bahwa, apa yang diomongkan pengurus hanya gurauan belaka”.

***

Ini bukanlah soal kapan kita dan organisasi akan berubah. Permasalahannya, kapan kita dan organisasi perlu berubah. Apakah dalam kondisi terpuruk, krisis, dan mengalami kejatuhan kita dan organisasi akan berposisikan seperti telur, jeruk, atau bola karet yang jatuh dari ketinggian.

0 komentar: