twitter





Mahasiswa telah lama ditinggalkan oleh para pemangku kebijakan. Begitulah kiranya yang terjadi selama ini ketika kebijakan dari Pemerintahan Mahasiswa (Birokrasi Kampus) seringkali justru tidak memberikan manfaat bagi mahasiswa. Kepentingan dan kemaslahatan umum terpinggirkan, terabaikan, tidak diutamkan. Jargon “pelayanan mahasiswa” hanya kata-kata kosong yang tidak langsung dirasakan oleh mahasiswa secara umum, khususnya bagi mereka mahasiswa baru, mahasiswa yang masih perlu beradaptasi dengan lingkungan kampus. Bagi mahasiswa biasa pelayanan menjadi rumit, berbelit-belit dan hasilnya kerap menjengkelkan. 


Pada kasus-kasus tertentu kepimpinan populis seolah menawarkan munculnya dukungan politik bagi pelayanan yang menjangkau semua mahasiswa. Namun kontinuitasnya dipertanyakan karena model seperti ini usianya terbatas masa jabatan pemimpinnya. Aktor-aktor politik lain seperti Partai (partai mahasiswa), DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan organisasi semacam itu tidak sungguh-sungguh mendorong sistem pelayanan mahasiswa secara permanen.

Seperti kasus yang terjadi bahwasannya ada beberapa mahasiswa yang kecewa dengan pelayanan pemerintah terkait Pengambilan Jas almamater. Mulai dari jangka waktu yang begitu panjang, mekanisme pengambilan Jas almamaterJas, VCD, dan sertivikat yang berbelit-belit, sampai pada hasilnya pun mereka kecewa. Menurut mereka pihak yang bersangkutan tidak serius dalam melaksanakan tugas, ada juga yang berpendapat bahwa ada indikasi korupsi dari BEM.

Melihat kondisi semacam itu jelas sekali dibutuhkan trobosan dalam perubahan sistem pelayanan kepada mahasiswa, dibutuhkan sistem alternatif yang mampu melecut kinerja pemerintah (Birokrasi Kampus) untuk memberikan pelayanan yang cepat, akurat dan mudah. Dalam hal ini mahasiswa membutuhkan jembatan untuk menyalurkan aspirasi, keluhan, klaim, tuntutan dan hak-hak mereka yang nantinya bisa disampaikan langsung kepada pihak yang bersangkutan.

Persepsi yang mengeras dibenak pemangku kebijakan (Birokrasi Kampus) bukan sebagai pelayan Mahasiswa, melainkan sebagai sosok yang waaaah, seakan hanya mencari popularitas, eksistensi dan minta dihormati. Yang dibutuhkan sebenarnya hanyalah keberanian dan adanya keseriusan dalam menjalankan program. Jika kedua sektor tersebut diperbaiki maka manfaatnya akan dapat dirasakan secara langsung oleh mahasiswa. Trend kepemimpinan memerlukan kehadiran pemimpin yang sungguh-sungguh dan berani mewujudkan mimpi-mimpi mahasiswa STAIN Pekalongan, sehingga menimbulkan kepercayaan dari mahasiswa yang dipimpinnya. Kesungguhan dan keberanian tersebut memang kadang-kadang membuat beberapa pihak menjadi tidak nyaman. Namun percayalah bahwa ketika seorang pemimpin menunjukkan kesungguhan hati dan keberanian untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik , baik dari segi manejemen maupun program-programnya maka harapan terciptanya student government yang lebih baik akan semakin mudah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu melawan nafsu keserakahan, idealis sebagai agent of change mampu ditegakkan, bukan malah tergadaikan.


0 komentar: