Mahasiswa
telah lama ditinggalkan oleh para pemangku kebijakan. Begitulah kiranya yang
terjadi selama ini ketika kebijakan dari Pemerintahan Mahasiswa (Birokrasi
Kampus) seringkali justru tidak memberikan manfaat bagi mahasiswa. Kepentingan
dan kemaslahatan umum terpinggirkan, terabaikan, tidak diutamkan. Jargon
“pelayanan mahasiswa” hanya kata-kata kosong yang tidak langsung dirasakan oleh
mahasiswa secara umum, khususnya bagi mereka mahasiswa baru, mahasiswa yang
masih perlu beradaptasi dengan lingkungan kampus. Bagi mahasiswa biasa
pelayanan menjadi rumit, berbelit-belit dan hasilnya kerap menjengkelkan.
Pada
kasus-kasus tertentu kepimpinan populis seolah menawarkan munculnya dukungan
politik bagi pelayanan yang menjangkau semua mahasiswa. Namun kontinuitasnya
dipertanyakan karena model seperti ini usianya terbatas masa jabatan
pemimpinnya. Aktor-aktor politik lain seperti Partai (partai mahasiswa), DPM
(Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan organisasi semacam itu tidak sungguh-sungguh
mendorong sistem pelayanan mahasiswa secara permanen.
Seperti kasus yang terjadi bahwasannya ada beberapa mahasiswa yang
kecewa dengan pelayanan pemerintah terkait Pengambilan Jas almamater. Mulai
dari jangka waktu yang begitu panjang, mekanisme pengambilan Jas almamaterJas,
VCD, dan sertivikat yang berbelit-belit, sampai pada hasilnya pun mereka
kecewa. Menurut mereka pihak yang bersangkutan tidak serius dalam melaksanakan
tugas, ada juga yang berpendapat bahwa ada indikasi korupsi dari BEM.
Melihat
kondisi semacam itu jelas sekali dibutuhkan trobosan dalam perubahan sistem
pelayanan kepada mahasiswa, dibutuhkan sistem alternatif yang mampu melecut
kinerja pemerintah (Birokrasi Kampus) untuk memberikan pelayanan yang cepat,
akurat dan mudah. Dalam hal ini mahasiswa membutuhkan jembatan untuk
menyalurkan aspirasi, keluhan, klaim, tuntutan dan hak-hak mereka yang nantinya
bisa disampaikan langsung kepada pihak yang bersangkutan.
Persepsi
yang mengeras dibenak pemangku kebijakan (Birokrasi Kampus) bukan sebagai
pelayan Mahasiswa, melainkan sebagai sosok yang waaaah, seakan hanya mencari
popularitas, eksistensi dan minta dihormati. Yang dibutuhkan sebenarnya
hanyalah keberanian dan adanya keseriusan dalam menjalankan program. Jika kedua
sektor tersebut diperbaiki maka manfaatnya akan dapat dirasakan secara langsung
oleh mahasiswa. Trend kepemimpinan memerlukan kehadiran pemimpin yang
sungguh-sungguh dan berani mewujudkan mimpi-mimpi mahasiswa STAIN Pekalongan, sehingga
menimbulkan kepercayaan dari mahasiswa yang dipimpinnya. Kesungguhan dan
keberanian tersebut memang kadang-kadang membuat beberapa pihak menjadi tidak
nyaman. Namun percayalah bahwa ketika seorang pemimpin menunjukkan kesungguhan
hati dan keberanian untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik , baik dari segi
manejemen maupun program-programnya maka harapan terciptanya student
government yang lebih baik akan semakin mudah. Pemimpin
yang baik adalah pemimpin yang mampu melawan nafsu keserakahan, idealis sebagai
agent of change mampu ditegakkan, bukan malah tergadaikan.




