twitter


            Jika dunia pendidikan masih dianggap sebagai saah satu ekosistem terpenting untuk memupuk kaderisasi yang sehat, maka sesungguhnya, sosok kaum muda (pelajar/mahasiswa) seharusnya menjadi produk yang lebih unggul dibanding dengan kelompok masyarakat lainnya. Karena itulah, dipundak mahasiswa terpikul tanggung jawab besar, yakni mengukir masa depan bangsa.


Cara yang paling mudah untuk menggambarkan perang sekaligus prestasi mahasiswa adalah dengan menengok sejarah panjang bangsa Indonesia. Tak pelak lagi, mahasiswa menjadi tulang punggung perlawanan dengan nilai-nilai idealisme yang tinggi. Mahasiswa merupakan lokomotif pendorong terciptanya transformasi social, bahkan lebih ekstrim lagi menciptakan revolusi social yang sistematik dan terpimpin. Telah tercacat dalam sejarah, gerakan kaum terpelajarlah yang akhirnya mampu mempercepat proklamasi kemerdekaan.
            Pada setiap masa, prestasi-prestasi mahasiswa terus terukir dengan indah. Namun tidak bisa dipungkiri, pada setiap generasi, selalu muncul pertanyaan yang paling mendasar, apakah prestasi itu sungguh-sungguh berarti bagi bangsa ini? Bagaimana peran yang bisa dimainkan oleh gerakan terpelajar (mahasiswa) pada masa sekarang?
Tanggung jawab moral
Ya, yang paling utama dan paling memungkinkan untuk dilakukan oleh gerakan kaum terpelajar saat ini adalah memperjuangkan tegaknya moral. Karena pada masa terakhir ini, dimana telah disinyalir oleh media massa, negara masih merupakan institusi yang paling rawan untuk disalah gunakan. Berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan oleh aparatur negara merupakan tindakan yang secara langsung telah merampas hak-k]hak warga negara. Hak-hak warga negara yang dimaksud dalam hal ini, meliputi tiga macam, yaitu: ushul (kebutuhan pokok), muhayya-ah (penunjang kebutuhan pokok) dan mutamminah (penyempurnaan kebutuhan pokok) (KH. Abdurrohman Cludlori, 2007: 07-08)
 
Tiga dasar kebutuhan inilah yang menjadi alasan terpenting bagi gerakan kaum muda untuk tetap berada digaris depan perjuangan menegakkan moral bangsa. Sayangnya pada masa belakangan ini, gerakan mahasiswa belum cukup lihai melakukanpersinggungan dengan institusi negara. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kemampuan gerakan kaum muda untuk melakukan proses negosiasi dengan negara. Padahal, negosiasi merupakan salah stu cara untuk menegakkan moral.

Kelemahan inilah yang seringkali kita tonton pada menu-menu berita di media televisi. Aksi masa mahasiswa seringkali tidak termanajemen secara rapi, sehingga berbuntut pada kericuhan, yang disebut sebagai anarkisme oleh aparat keamanan. Patut ditegaskan bahwa aksi yang memang mensetting  kericuhan, hanya bisa dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang memiliki keterampilan dan mental yang tengguh. Gerakan seperti ini akan berfikir tentang pasca aksi dan negosiasi yang efektif. Bahkan berfikir pula tentang format gerakan kaum terpelajar masa depan. Jika gerakan kaum mahasiswa telah mampu mencapai kemampuan ini, maka gerakan kaum mahasiswa tidak akan dituding sebagai biang keonaran, baik oleh masyarakat yang dibelanya maupun oleh aparat keaman

Tugas Intelektual Muslim
Bagaimana format gerakan kaum mahasiswa di kampus-kampus yang berlatar belakangan islam? Sesungguhnya, telah banyak tokoh-tokoh muslim yang memberikan jawaban atas hal-hal ini. Bahkan dua warisan suci yang di tinggalkan oleh baginda Rosul Muhammad Saw. Yakni Al-qur’an dan hadist , merupakan sumber dari segala sumber referensi yang tiada habisnya.

Tengok saja landasan nilai yang telah disebutkan secara tegas di dalam Al-qur’an. Pertama, nilai kesetaraan, bahwa seseorang mempunyai kedudukan yang sama tanpa memandang perbedaan ras, agama, kedudukan, sosial, dan lain sebagainya (Q.S. Al-hujarat: 13). Kedua, nilai kebebasan, bahwa adanya jaminan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik, bertanggung jawab dan berakhlaqul karimah (Q.S. At-taubah:105). Ketiga, nilai musya waroh, yakni mengambil keputusan dengan mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan baik secara langsung maupun perwakilan dalam urusan bersama (Q.S. Ali Imron: 159). Keempat, nilai keadilan, yakni menetapkan suatu keputusan baik berupa hukum, peraturan maupun kebijakan sesuai dengan hakikat kebenaran (Q.S. An-nisa: 135).
  
Nilai-nilai luhur itulah yang seharusnya menjadi ruh gerakan kaum mahasiswa muslim. Disamping itu, secara institusianal kaum mahasiswa muslim juga mempunyai pijakan berupa tri darma perguruan tinggi yang meliputi 3 (tiga) aspek, yakni keilmuan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Jika setiap mahasiswa muslim mempunyai kualifikasi yang memadai di tiga aspek tersebut, maka format gerakan yang diusung tentu akan profesional dan mapan.

By : Ali Imron

0 komentar: